
Halalbihalal, Apakah Sunah? Tanya jawab agama diasuh oleh Dr Zainuddin MZ Lc MA, Ketua Lajnah Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.
Tarjihjatim.pwmu.co – Tanya ustadz, katanya halalbihalal tidak dicontohkan Nabi? Apa sebenarnya ucapan dan amalan setelah Idul Fitri atau Syawal?
Jawaban
Benar, tidak ada secuil teks pun yang membicarakan halalbihalal, bahkan istilah itu menurut saya hanya populer di Indonesia. Selama saya di Saudi Arabia, tidak pernah mendengar istilah halalbihalal.
Permasalahannya, apakah halalbihalal itu dikategorikan syariat atau kultur. Bagi yang memandangnya syariat, tentu dimasukkan amalan bid’ah. Namun bagi yang memandangnya kultur, maka boleh dilakukan sejauh tidak berbenturan dangan rambu-rambu keislaman, misalnya sebagai media silaturahmi, tausiah, zikir, dan sebagainya.
Islam sangat menghargai kultur sejauh kultur itu tidak berseberangan dengan syariat. Ada beberapa contoh dari Rasulullah SAW seperti kultur pakai stempel pada surat resmi dan lainnya.
Adapun ucapan selamatnya, idul mubarak, fi kulli am wa antum bi khair, taqabbalallah minna wa minkum. Oleh karena ucapan tersebut tidak masuk kategori tauqifiah, maka boleh direkayasa, bahkan diterjemahkan dengan menggunakan multibahasa. Upayakan jangan mengucapkan “Selamat Hari Raya Fitri”, tetapi “Selamat Berhari Raya Fitri”, dan begitu seterusnya. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni