
Penggunaan Bangku sesuai Etika Jibril?
Sebelum dunia pendidikan modern yang sekarang kita kenal, Rasulullah dan Jibril telah memberi konsep etika pembelajaran yang efektif. Lantas bagaimana dengan sekolah modern yang menggunakan bangku sebagai fasilitas belajar mereka?
Dunia pendidikan telah banyak dibentuk oleh individu-individu visioner yang mendedikasikan hidup mereka untuk menyebarkan pengetahuan dan pencerahan. Di antara tokoh-tokoh tersebut, Kiai Ahmad Dahlan, seorang ulama dan reformis Indonesia, berdiri sebagai sosok luar biasa yang kontribusinya meninggalkan jejak yang tak terhapuskan pada pendidikan dan masyarakat.
Inti dari filosofi pendidikan Kiai Ahmad Dahlan adalah integrasi ilmu pengetahuan modern dan pemikiran kritis ke dalam kurikulum. Beliau memahami pentingnya beradaptasi dengan perubahan zaman dan mempersiapkan siswa untuk keterampilan yang dibutuhkan supaya dapat beradaptasi di dunia yang berkembang pesat. Pendekatan berwawasan ke depan ini meletakkan dasar bagi modernisasi pendidikan Indonesia.
Bukan berarti hadirnya pendidikan modern ini dapat menghilangkan nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah, justru inilah tantangan untuk mengintegrasikan konsep modern dengan teks dalam riwayat tersebut. Di sinilah kemudian konsep halaqah yang dulu bersifat tradisional dimodernisasi menjadi konsep kelas huruf U, di mana bangku tidak lagi ditata berbaris seperti tentara yang sedang berbaris, namun dibentuk huruf U sehingga semua yang ada di kelas tersebut bisa mendapatkan kesempatan yang sama dalam berinteraksi dengan gurunya.
Siapa sangka bahwa dengan duduk yang dekat dengan guru merupakan salah satu etika belajar dalam Islam. Pengalaman belajar setiap orang memang unik, pilihan tempat duduk di kelas mungkin tampak tidak penting. Namun, penelitian dan bukti anekdot menunjukkan bahwa keputusan untuk duduk di depan guru dapat mempengaruhi proses pendidikan seseorang secara signifikan. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni